Teh Impor

Belakangan ini saya berubah dari penikmat kopi menjadi penikmat teh. Abis kalau minum kopi saya hanya mampu sehari satu gelas saja, selebihnya saya akan mules, pening, serasa melayang, atau jantung berdebar-debar. So, setelah berkesempatan merasakan nikmatnya Earl Grey Tea, dan setelah merasakan teh cap hurup cina (saya lupa namanya teh apa, kemarin bawa dari rumah waktu pulang kampung), saya kok jadi suka sama teh. Apalagi teh dengan aroma yang harum, diminum di sore hari di kamar kos sambil mendengar bunyi hujan, mantab tenannn. Akhirnya mulai deh saya beli teko untuk menyeduh teh, diteruskan dengan membeli gelas keramik (pinginnya kaya gelas-gelas orang Jepang gitu yang ada di dorama-dorama, dengan nama diukir di bagian bawahnya, tapi gak ketemu), dan diakhiri dengan habisnya stok teh cap huruf cina saya … hiks …

Muter-muter ke swalayan-swalayan, tidak ada yang menjual teh “nyeleneh”. Adanya ya yang standar-standar saja semacam teh hitam (red tea in some countries), teh hijau, dan teh melati keluaran S*ri W*ngi, P*ci, T*ng, S*sr*, dll dsb … tidak ada yang menjual Earl Grey … yaikz, jadi ilfil dah …

Beruntung di kantor ada staff yang punya koneksi ke dealer Teh dan semacamnya di Jogjakarta, langsung minta daftar harga … glek, kok mahal yah … ah yowis jarang-jarang saya menghabiskan uang untuk kaya beginian. Merk tehnya adalah Dilmah Tea, dan saya memilih untuk membeli teh jenis Morrocon Mint dan Earl Grey kemasan box isi 25. Total saya kudu ngeluarin duit dari kocek saya Rp 68,000.00 … glek, puasa puasa deh saya … tapi kan teh imporrr boooo … ^^



Dan akhirnya Jumat kemarin dua box itu datang. Masalah baru datang, saya tidak tega membuka kemasannya … aah penyakit lama, kalo ada barang yang baru dibeli dengan susah payah kok jadi sayang ngebukanya … harus menunggu momen yang tepat dan tenang untuk meminumnya … soon ^^

Silahkan tunggu laporan berikutnya ketika saya menyeruput teh impor ini kekekek ^^

Posted: December 1, 2007 Comments (8)

Akhirnya Merasakan Ramen

Yak sodara-sodara, akhirnya penantian itu datang juga. Meskipun tidak sehebat impian saya sebelumnya, akhirnya setelah 24 tahun menanti, hari ini saya berkesempatan mencoba Ramen, alias mie khas Jepang (at least that what they said^^) …

Bermula dari peristiwa kelaparan saya dan Toni yang lalu memunculkan ide-ide gila lokasi makan. Awalnya Toni mengajak ke Chinesse Food yang deket Jakal, dan secara Chinesse Food itu sudah digusur oleh seng-seng yang dipasang di lapangan biasanya dia mangkal, opsi itu pun akhirnya gagal. Pikir punya pikir, akhirnya muncul ide untuk makan Ramen yang katanya berlokasi di Jalan Kaliurang sebelah atas. Sepakat!!! Akhirnya diputuskan untuk makan di situ sambil ngajak Sangprabo juga, ini orang yang belakangan sangat bersemangat buat makan di situ. Well, akhirnya berkat sang maha-dukun Google, kami melakukan pencarian dan menemukan link ini. Berbasis petunjuk dari maha-dukun, akhirnya kami bertiga berangkat menuju arah Utara …. mangkattttt

Sampai di tujuan, akhirnya kami menemukannya. Sesuai dengan petunjuk yang kami dapat, warungnya terletak di seputaran Jl. Kaliurang km 10.5, depannya kebun buah naga. Bagian depannya tampak seperti ini:


Kami langsung markir motor, dan melihat menu … alamakkkk lumayan murah untuk ukuran yang ditawarkan (menurut petunjuk, kami harus siap berhadapan dengan mangkok berdiameter 25cm dan dipenuhi oleh ramen plus isi-isinya). Langsung saja kami bertiga menunjuk ke menu yang paling mahal (Rp 9.500), yaitu Gomoku Ramen, yang mana isinya ramen pake kuah Shio (garam) plus isi daging sapi asap, sayuran, udang, cumi, dan rumput laut. Hehe, sebenarnya akan lebih menyenangkan jika kaldu yang digunakan benar2 kaldu babi seperti yang ada di sini (ups, hehe … maap kalo haram detekted, hanya ungkapan hati yang rindu akan ramen babi wkwkwkwk). Tapi sekilas pandang, mantap kannnn untuk harga segitu??? Trus minumannya saya pesan Sencha, yang katanya Teh Hijau ala Jepang, tawar tanpa gula … mantabbbb, secara saya juga belakangan sedang kecanduan teh.

It tooks 20 minutes for the menu to be served. Lama juga yah, sambil menunggu kami berkhayal-khayal sambil cengengesan sendiri kaya apa jadinya ramennya. Berikut salah satu pelaku yang sedang cengengesan …

Well … dan berikut ini adalah hasil pesanan kami … bisa dilihat sendiri betapa kami tidak ngiler setengah mati dan berusaha menahan nafsu yang terus bergejolak ketika harus bersabar menunggu proses pemotretan makanan tersebut. Aih aih … tidak kuaaaatttt!!!!!!

Dan setelah kami rasakan … to be honest, saya agak ngerasa kurang gurih (asin), padahal katanya pake kuah garam. Tapi berbekal pikiran positif dan euphoria berlebihan saya memakan hidangan itu dengan lahap sekali. Ndak cuman saya dink, Toni aja yang biasanya makan paling lambat dan lembut tiba di garis finish lebih dulu dari saya dan sangprabo. Gile juga tuh anak kalo lagi niat apa-apa cepet dah …

Sepulangnya dari situ … kami bertiga kekenyangan …. aaaahhhh diet saya hari ini gagal lagi … wkwkwkwk

So, buat yang belum tahu dan pingin merasakan ramen di jogja … mari mari silahkan datang ke tempat ini. Dijamin pulang-pulang buntjit dah itu perut wkwkwkwk

Dari jogja saya melaporkan untuk ubun-tv … :D

PS: tulisan serupa bisa didapatkan di blog toni dan sangprabo

Posted: November 26, 2007 Comments (8)

My First Cup of Starbucks

Horeee, akhirnya datang juga hari besar dalam sejarah gosonX minum kopi starbucks!!! Secara saya adalah seorang yang agak katro di bidang beli-sesuatu-yang-mahal-padahal-harusnya-tidak-semahal-itu, rasanya boleh donk kalo saya sedikit pamer mengenai my first cup of Starbucks.

Rasa (atau apa ya istilahnya) yang saya pilih adalah caramel *something*, dingin dan esnya tidak di-blend. Kenapa saya pilih itu? Padahal kan biasanya kalo ke coffee shop yang lain saya akan memilih yang non-caramel dengan alasan eneg sekali. Abis itu pilihan dari masnya yang jaga (kekeke, saya pake belagak katro bilang ‘wah saya juga bingung mas’, akhirnya dia yang milihin, katanya special menu - selain date frappucino). Yah for today caramel boleh lah …

Rasa … humm, so far as I can taste sih kok sama aja ya dengan rasa kopi di tempat lain. Aroma caramelnya kurang begitu terasa (mungkin kurang banyak ajah campurannya), dan yahhh … sepertinya lebih menyenangkan jika dihidangkan dengan cangkir (dan setelah dapat konfirmasi dari Bayu bahwa memang gitu sajiannya, lebih menyerupai fast food gituh, saya jadi lebih memahami).

So far as I can tell you … 33ribu untuk segelas caramel *something* akan terasa lunas jika saja tadi saya sempat konek ke internet dengan notebook yang sudah saya bawa dari kos, dan waktu yang lebih lama lagi untuk nongkrong di sana … huhuhu … rasa? boleh lah … hehe besok-besok cobain frappucinonya ah. Itu barang dah sering banget saya lihat kemasan botolannya di Circle-K tapi gak kuku buat belinya (harganya itu boooo larang tenan!!!) …

Huehehehe, thanks to Bayu buat traktirannya. Besok-besok cobain rasa yang beda yah kekekek *nyaaaaaa*

Posted: September 27, 2007 Comments (2)

Live@KedaiKopi

Malam ini saya diajak Bayu untuk ngopi-ngopi dikit (banyak juga gpp dink) di Kedai Kopi. Buat anda-anda yang nggak tau Kedai Kopi (pertama-tama … kasihan deh loe wakakak), lokasinya ada di timur UNY di pinggir selokan mataram. Yah, itung-itung “nggaya” dikit, sekali-sekali jadi anak gaoel nenteng notbuk ke kafe (dan berharap semoga baterainya tahan tjukup lama).

Pertama kali yang kulakukan adalah mencoba koneksinya, well better than Empire lah dari segi kecepatan. Dan mungkin karena memang ini adalah kedai spesialis kopi, kopinya enak euy. Mumpung gratis sekalian aja coba Chocholacino, yang katanya mirip-mirp mochacino tapi versi hangatnya (dalam artian ni kafe nggak memberikan mochacino hangat dalam menunya *aneh memang*), sedikit rasa coklat dan paduan krim di atasnya. Dari rasa … nice, menyenangkan minumnya huehehe. Humm, mungkin kritik dikit : pesanan disajikan terlalu lama.

Next … somehow perutku jadi mules (wakakak, akhirnya udiknya keliatan … nggak bisa minum kopi keren), nanya ama mas pelayan yang mukanya mirip kali ama Aming dimana toiletnya dan dia bilang di belakang. Setelah ke sana, tahulah saya bahwa tidak ada lubang toiletnya. Sial, kalau gini susah ceritanya, untung saya bisa (ups) buang angin sedikit supaya lega di perut. Lalu setelah itu pesan teh Earl Grey, dan sengaja nggak saya tuang gulanya supaya bisa benerin nih perut sedikit.

*mencoba bertahan dengan baterai 31%, according to Power Manager dan perut agak aneh*

Okay, sebenarnya tujuan hari ini adalah sebagai follow up proses peracunan Bayu untuk masuk ke dunia blogger, ngajarin cara ngeblog. Sebagai permulan saya kenalkan saja ke blogsome, dan yah seperti yang bisa dilihat, akhirnya dia bisa ngeblog juga (dan pertanyaan anehnya adalah … cara bikin paragraf menjorok ke dalam bagaimana yah^^)

Hemm … saya baru sadar kalau batere saya masih kuat dan waktu sudah menunjukkn pukul 01:08 a.m. Kalau dihitung-hitung tadi kami datang ke sini jam 23.00, maka notbuk ini sudah nyala 2 jam lebih 8 menit! Cukup jauh dari waktu yang saya kira mampu dipertahankan oleh notbuk ini , dan kalau si Power Manager menunjukkan persen yang bener, masih ada 26% daya yang tersisa … hehehe, mantab mantab …

Aarrgghhh!!! Perut sudah tidak bisa kompromi lagi, saya harus mencari mas Aming tadi dan nanya dimana toilet benerannya. Untungnya ada, di belakang sekali dan tidak ada lampunya. Mampus dah, tapi apa daya, demi perut terobati saya harus merelakan rasa takut saya dihilangkan sekejab. Misi mas dan mbak penunggu, numpang jongkok ^^ … $en$ored ….

Selesai juga … aaahhh … Humm kudunya nih titel harus diganti jadi “obrolan seputar buang air” yakakak, astaga jorok kaleee. Maap maap para pembaca sekalian, saya lagi error nih di Valentine Day ^^ …

Humm, mungkin cukup dulu deh saya nulis, ntar klo da sambung lagi aja deh … hehehe …

Posted: February 14, 2007 Comments (4)

Pencarian Kerang Rebus “Wueenak”

Pencarian ini bermula dari perkenalan saya dengan kerang rebus sekitar 10 tahun lalu, waktu itu masih dimasakin ama bapak saya, dan terlupakan sampai akhirnya sekitar sebulan yang lalu saya kembali diajak oleh Pak Umar, dosen di USU, untuk menikmati kerang rebus di Medan. Waktu itu saya dan Reza diajak untuk menikmati Medan di waktu malam dan sedikit berwisata kuliner ke pojok-pojok Medan. Setelah makan durian segede bagong (alamak bener deh segede bagong tapi murahnya bangetttt … ukuran Jogja 25rebu, di sana dapet cuman 6rebu - bahkan bisa kurang), kami diajakin makan kerang rebus plus susu ahad.

Penasaran seperti apa bentuk mereka? Well here are some report … (more…)

Posted: February 11, 2007 Comments (7)