Pertamanya Transjogja

Yup, akhirnya setelah tertunda cukup lama, bis Transjogja mulai hari ini (18 Februari 2008) mulai beroperasi. Dan untuk satu atau dua minggu ini harga yang dibebankan kepada penumpang untuk Single Trip masih Rp 1.000,00. So, saya tentu tidak akan melewatkan kesempatan ini. Berencana semenjak tadi malam untuk standby jam 6.00 pagi di shelter dekat kos saya, akhirnya harus saya batalkan karena saya terlambat bangun. Hehe, saya bangun jam 8 pagi, dan itu sudah sangat terlambat untuk pergi ke kantor kwkwkwkwk.

So, akhirnya siang tadi setelah saya mengantarkan teman saya mengambil toga di tukang jahit, saya sengaja memarkir motor di kos dan memilih untuk kembali ke kantor dengan menggunakan Tranjogja. Pukul 13.50 saya sudah menunggu dengan manis di shelter depan Calista, dan menunggu bus dengan jalur 3A. Bus datang pukul 14.10 … cukup lama menunggunya, kata si mas-mas yang jaga sih soalnya pada jam 13.00 tadi terjadi penumpukan cukup banyak di jalur itu. Well, sepertinya para supirnya masih agak canggung dengan jadwal-jadwal yang ada.

Well, sudah tentu kalau saya berangkat pake T-djo (TransDjogdja), maka pulangnya juga saya harus pakai T-djo. So,sekitar pukul enam sore saya menunggu T-djo jalur 3B di shelter Kopma UGM. Eh, di sana malah ketemu ama Cheche dan temannya, yah lumayan ada temen jalan buat pulang. Gak lama kemudian itu bis dateng, dan untung pas lagi sepi, akhirnya pada foto-foto di atas bis tersebut. Lumayan …

Rencana awal saya mau turun di shelter Kentungan, namun karena saya jadi mikir-mikir kalo harus jalan sekitar sekilo lebih kalo mau ke kos, maka mending saya teruskan perjalanan ke terminal Condong Catur dan kembali dengan bus jalur 3A dan turun kembali di depan Calista. Lha kok pas lagi ngobrol dengan mas-mas kondekturnya dia menyebutkan kalau jalur 3A juga lewat Bandara, yang mana bis 3B yang saya naiki juga mengarah ke sana. Well, seribu rupiah dan saya bisa ke bandara, kapan lagi coba. So, perjalanan saya teruskan ke bandara sambil lihat suasana kiri kanan yang hujan lueeeebaaaatttt banget. Nah, kalo sepi begini kerasa nyamannya naik T-Djo, adem dan kering …

Sampai di bandara, saya putuskan untuk turun saja dan kembali ke jalan yang benar dengan jalur 3A. Setelah menunggu selama 20 menit (yang mana T-Djo2 yang lewat semuanya jalur 1A dan 3B), akhirnya 3A lewat juga. Langsung naik dan duduk manis di pojokan. Setengah jam kemudian, saya sudah sampai di shelter Calista dan berjalan kaki ke kos …. yang mati lampu … aaaa, tau gini mending saya teruskan saja sampai Malioboro wkwkwkwk … secara cuman seribu perak :p

Nah, ada beberapa hal yang perlu saya kritisi nih dari peluncuran perdana T-Djo.

Dari shelternya, cukup nyaman kecuali tidak ada larangan merokok di situ. Yah pikir saya sih kalau masyarakat jogja masih susah untuk dikasi larangan merokok di tempat umum, setidaknya di dalam budaya itu bisa dimulai dari shelter tersebut. Kemudian pintu masuknya yang cukup sempit. Saya gak kebayang yang berbadan cukup berisi melewati gate itu bisa rubuh dah. Trus petugas yang sering mondar-mandir juga agak membingungkan calon penumpang. Ada yang di dalam gate, ada yang menghalangi pintu masuk, ada pula yang sudah siap-siap pulang sebelum penggantinya datang. Trus antisipasi mati lampu kurang sekali. Akibatnya? Well, gate sih memang masih tahan sampai 4 jam, tetapi tanpa listrik pintu keluar penumpang tidak bisa dibuka pakdhe. Tadi saya lihat masih ada yang dipaksa buka pakai tangan. Gimana mau bertahan lama itu pintu kalau kaya gitu caranya. Semoga disediakan mekanisme khusus untuk tiap shelter, minimal yang bisa membuka pintu dan menguncinya supaya tidak ditutup kembali ketika terjadi mati lampu. Hehe, towel-towel tim R/Dev-nya T-Djo wkwkwkwk yu-know-hu ^^

Kemudian dari armadanya. Interior nyaman, cukup nyaman untuk travelling murah meriah. AC dingin, enak juga. Tapi kok dari tiga bis yang saya naiki, hanya satu yang benar-benar beres. Yang dua lainnya masing-masing rusak wiper-nya dan pintunya tidak bisa menutup. Kalau bisnya sudah lama sih gak papa, ini masih baru jalan sehari jhe. Masa udah ada kerusakan? Kemudian untuk penunjuk halte, kesian juga sih waktu mendengar si mas kondektur bilang kalau dia sudah 24 shelter x 7 putaran berteriak “Kita akan berhenti di halte blah blah blah, harap membawa barang bawaan anda dan jangan sampai ada yang tertinggal blah blah”. Ya dari pembicaraan selanjutnya sih si mas kondektur bilang memang masih bertahap, sementara masih teriak-teriak dulu … nanti kalo ada profit bisa dikembangkan lebih bagus lagi … hehe, iya bos, tapi kalo nantinya setahun, bisa ilang juga tuh suara kekekek …


Overall, enak juga naik T-Djo. Semoga di besok-besok makin banyak shelter dibangun dan bisa menggantikan kinerja bus kota yang semrawut itu. Wahai warga Jogja, ayo naik T-Djo …

Posted: February 18, 2008

4 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://alvonsius.blogsome.com/2008/02/18/pertamanya-transjogja/trackback/

  1. duhh,,jadi pengen naek T-Djo…
    Smoga dgn ini jogja makin ga semrawut.
    Wahai, para pengendara motor, beralihlah naik T-Djo!!

    Comment by xin — February 20, 2008 @ 7:19 am

  2. Kemudian pintu masuknya yang cukup sempit. Saya gak kebayang yang berbadan cukup berisi melewati gate itu bisa rubuh dah.

    wah,penumpang wanita cantik,berbadan cukup berisi yang mengenakan baju item dan membelakangi itu ga bikin rubuh shelter kok.
    hehhehehe

    Comment by cece okeh — February 20, 2008 @ 1:40 pm

  3. yaoloohhh… kerennya.. tapi kok saya mbayangin ada yang teriak2 tiap halte gitu jd berkurang kerennya ya? heheheh…

    Comment by chrisibiastika — March 4, 2008 @ 9:56 pm

  4. ihh.. aku mau dong naik Tjo.. belun pernah

    Comment by maya — March 14, 2008 @ 2:05 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>