Take it or leave it

Hari sabtu kemarin, nggak sengaja saya ikut menyaksikan pertandingan antara Chris John dengan Acosta. Tidak biasanya saya cukup menikmati pertandingan tinju, mengingat gaya pertarungan keduanya cukup mengasyikan untuk dilihat. Jab-jab dan straight dari Chris John sepertinya begitu ringan dan mantap diayunkan, mengingatkan saya pada game pertarungan yang sudah lamaaaaaa banget tidak saya mainkan, Tekken. Kemudian fisik dari Acosta yang, kalau boleh saya yang masih noob dalam dunia tinju pertinjuan ini mengatakan, sangat luar biasa semakin membuat saya menikmati pertarungan tersebut.

Tapi ada satu hal lagi yang bagi saya cukup menyenangkan untuk dilihat di pertarungan ini, yaitu slogan yang dibuat oleh sang promotor, Take It or Leave It. Kalau memang cara pandang saya dengan sang promotor ini sama, maka saya bisa menangkap maksud dari sang promotor adalah jika kita memang menginginkan sesuatu, maka kita harus berusaha untuk bisa menggapainya, dan bila memang kita sudah berusaha tetapi gagal untuk mendapatkannya, maka kita bisa kembali dengan kepala tetap tegak. Well, seharusnya pemikiran positif ini dimiliki oleh Bonek-Bonek sebelum mereka melakukan kerusuhan di Malang. Mungkin memang bisa dimaklumi ya kalau tim kesayangan kita, tim yang menjadi kebanggaan kita terpuruk. Saya mengalaminya di beberapa musim lalu dengan Fiorentina, dan musim ini entah kenapa terjadi lagi, kami harus memulai musim dengan minus 19 poin (plus kemarin baru kalah dari Inter Milan hik hik hik). Tapi kenapa justru kita harus marah pada lawan? Kenapa kita harus marah kepada tim kita (yang katanya kesayangan dan kebanggaan kita)?. Lawan juga sedang berjuang, lawan juga tentu tidak mau kalah dalam berjuang, lawan juga punya kepentingan dalam pertandingan, lha kenapa mereka yang dimarahi? Apakah mereka harus terpaksa kalah? Tim juga pasti sudah berusaha sekuat tenaga, atau haruskah tim kesayangan kalian bertanding dengan tekanan dan paksaan untuk menang (kalau kalah mampus deh gue, yakakak). Ayolah bung, berpikir sedikit jernih lah. Masa mau kaya anak kecil melulu, kalo kalah ngelapor mama, kalo kalah ngambek, kalo kalah lempar-lempar barang?

Pikir dong cak, pikirrrr … ataukah memang Persebaya harus dibubarkan? Ataukah nanti kalian akan bakar-bakar dan rusuh-rusuh lagi di Surabaya kalau benar-benar terjadi pembubaran Persebaya?

Posted: September 12, 2006 Comments (0)