KDE Keyboard Support

Pagi ini kebetulan waktu lagi browsing di milis Kubuntu, saya menemukan sebuah thread tentang mengaktifkan volume controlling lewat tombol-tombol multimedia di keyboard. Yang terjadi adalah tombol-tombol untuk mengubah volume suara tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Masalah ini sudah lama sih saya dapatkan, dan untuk menanggulanginya saya menggunakan aplikasi hotkeys yang berjalan di belakang layar untuk memberi trigger pengubahan volume suara.

Thread itu mengatakan bahwa KDE secara default memberikan support pada sejumlah tipe keyboard, dan kita bisa mengontrolnya dengan setting Keyboard Layout pada K Control Center. Permasalahannya adalah terdapat bug yang membuat KDE tibak bisa secara otomatis menunjukkan daftar keyboard yang di-support dan hanya memberikan daftar kosong. Masalah ini dapat diatasi dengan memberikan link kepata /etc/X11/xkb di /usr/share/X11 …

Berikut langkah-langkahnya …

~$ cd /usr/share/X11/
/usr/share/X11$ sudo ln -s /etc/X11/xkb xkb

Kemudian buka K Control Center > Regional & Accessibility > Keyboard Layout dan pilih daftar keyboard yang bersesuaian dengan milik anda. Pada kasus saya, saya memilih Laptop/notebook Compaq (eq. Armada) Laptop Keyboard (untuk yang Presario tidak cocok, aneh padahal laptop saya Presario … whatever) dan setelah mencoba … berhasil.

PS: Langganan majalan tuxmagazine … klik saja di http://www.tuxmagazine.com/

Posted: February 24, 2006 Comments (0)

asdfasdfasdf

Aku bosan coding setiap hari …
Aku bosan melihat berita-berita di internet …
Aku bosan nongkrong di kde-look
Aku bosan melihat Quanta, Kate, MySQLCC, Konqueror dan Firefox …
Aku bosan menulis-nulis blog …
Aku bosan melihat-lihat mailbox dan tidak ada e-mail selain dari milis …
Aku bosan blogwalking, bahkan ke tempat favoritku sekalipun …
Aku bosan nongkrong di kantor ampe pagi buta …
Aku bosan jadi supir …
Aku bosan ketemu dengan orang kantor dan project melulu …

Aku ingin sesuatu yang baru …
Aku ingin menulis email pada seseorang, bukan pada milis …
Aku ingin coding dengan perasaan santai dan bukan terkejar-kejar …
Aku ingin kamar kosku rapi …
Aku ingin potong rambut …
Aku ingin beristirahat dan bersantai …
Aku ingin bertemu dengan teman-teman 2000 PMKT …

Aku ingin …

asdfasdfasdafaqewradasdfasfasdaasdasfasdasdfasfasf

Posted: February 13, 2006 Comments (7)

Melihat-lihat dunia luar

Hari ini saya ketiban sial harus mengganti sprocket motor saya dengan yang baru. Sebenernya sudah sejak beberapa hari lalu saya merasakan ada yang aneh pada perputaran rantai motor saya. Kadang-kadang suka seperti mau lepas di tengah jalan. Akhirnya tadi siang saya tidak tahan lagi dan membawa motor saya ke bengkel. Sampai di sana, setelah diceramahi dikit ama mas montir akhirnya diambil keputusan bahwa sprocket berikut rantainya. Humph … pelajaran yang dapat saya ambil adalah jangan sampai membiarkan kerusakan kecil pada motor menjadi masalah yang cukup besar. Untuk itu saya mencoba menyisihkan sedikit tabungan untuk persiapan perbaikan berikutnya, shockbreaker kiri …

Sorenya di kantor kebetulan ada pengajian sehingga kantor agak sepi. Saat itu terlintas di benak saya untuk mencuci motor. Pikir saya sekalian aja dah tadi pagi dia ‘dimandikan’ dengan oli dan dioperasi, kenapa tidak sekalian dicuci. Akhirnya pukul 05.15 saya bertolak ke daerah selokan gejayan menuju sebuah tempat cuci motor yang udah lama tidak saya kunjungi … Kalau diantara anda ada yang berkesempatan melewati selokan Mataram ke arah atmajaya, tempat cuci motor ini terletak setelah jembatan kecil di bagian kiri jalan dengan nama “Inova”. Entah dengan tempat cuci motor yang lain, saya merasa perlakuan tempat cuci motor ini sedikit spesial terhadap pelanggannya. Yang pertama, mereka membilas dengan sangat rapi. Bagian terdalam motor ikut disemprot. Setelah itu motor anda akan dicuci dengan seember air sabun (entah apa, tetapi aromanya jeruk manis … es jeruk kaleee) sampe bagian2 dalem. Setelah dikeringkan (dengan kain lap dan disemprot dengan pistol angin), motor saya dipoles dengan semacam wax (entah kenapa … lagi-lagi aroma jeruk). Yang bikin saya impress adalah bahkan ban motor saya diberi wax khusus untuk ban. Wehehehe, tampak seperti ban yang baru … Selain itu, suasana di sekeliling tempat ini yang masih beraroma pepohonan cukup menyegarkan mata saya yang 7 x 16 jam terkena radiasi monitor … phew, I must do this more often … cleaning my eyes … melihat matahari sore di sela-sela pepohonan, diselingi mahasiswi atmajaya (hayah … kumat deh) yang berseliweran …

Setelah saya mencuci motor, saya iseng-iseng melewati jalan Adisucipto dan melihat-lihat jogja di sore hari … Sedikit tersadar juga kalau ternyata saya sudah melewatkan terlalu banyak waktu di seputaran Jalan Kaliurang dan kantor, dan melewatkan sejumlah perubahan yang terjadi di kota ini. Melewati Ambarukmo Plaza saya cukup tercengang. Bangunan itu sudah istilahnya siap tempur, dengan logo Carrefour di bagian samping, sepertinya bangunan itu akan sangat ramai nantinya. Jadi tidak sabar menunggu Maret. Terpikir di kepala saya … “not bad juga tinggal di jogja nih ampe 5 tahun mendatang…”. Kemudian saya mampir sebentar di Circle K depan Saphir Square dan membeli nescafe kaleng, serta memotret bagian depan Saphir Square …

Waktu sudah menunjukkan 6.30 petang … saatnya kembali ke kantor dan berkutat kembali dengan setumpuk pekerjaan, setumpuk script dan sekaleng nescafe …

Posted: February 6, 2006 Comments (3)

Laptop == Internet ???

Beberapa hari yang lalu saya pergi menemani teman saya latihan menari untuk sebuah perlombaan. Karena kebetulan waktu itu saya membawa laptop saya dan lagu yang dipakai untuk latihan ada di situ, maka saya dimintai tolong untuk menjadi operator mereka, sekaligus musix mixing lagu mereka (i later did this with Audacity). It’s OK, sekalian mengenalkan Linux pada beberapa orang yang ada di sana …

Segera sesudah saya mengeluarkan laptop saya, seorang adik kecil (sebenernya dia dah SMA sih, tapi karena saya udah agak tua *lol* ga papa khan dibilang adek kecil hehe) bertanya pada saya …

Adek Itu (AI) : Kak, itu laptop khan
Saya (SY) : Yup … ada apa emangnya?
AI : Internetan dong kak … khan bisa
SY : ???? Maksudnya?
AI : Ya khan kalo pake laptop bisa internet
SY : Ya … ehmmm … tergantung sih, kalo di sini ada jaringannya
AI : ??? … ****
SY : Maksudnya khan harus ada yang nyediain layanan di sekitar sini
AI : Ya iya, ayo dicoba … pasti bisa khan?
(karena saya yakin bahwa di situ nggak ada hotspot nyala)
SY : Emang di sini ada jaringan?
AI : Lha khan laptop bisa buat ngenet … cobain dunk …
SY : Ok, coba kita lihat yah … (akhirnya saya mencoba melakukan scanning … gak ada jaringan)
AI : Kok lama yah … gak bisa ya?
SY : Kayanya di sini nggak ada jaringan deh …
AI : Ooooo … yahhh … (lalu pergi)
(Saya gak yakin apakah dia mengerti pokok permasalahannya di sini … )

Hemm … siapa yang salah ya …


Blog.Worm

whoaaaaa …. it’s infected meee !!!!!!

Posted: February 4, 2006 Comments (1)

Avenue Toilet

Malam minggu kemarin saya berkesempatan mengunjungi Avenue, restoran pizza yang cukup baru di Jogja (you can see the review di blog Tika). Kebetulan waktu itu saya sedang sendiri dan temen yang baru off dari kerjaannya di Halliburton ngajak keluar (baca: ditraktir), saya senang-senang saja, Dan seperti biasa, semenjak gw punya kebiasaan baru blogging soal toilet, maka sebelum pulang saya mampir sebentar di toiletnya.

Toiletnya terletak di bagian selatan restoran, ditandai dengan mural yang menunjukkan “di sini ini lho toilet” … Ketika masuk, ruangan yang disediakan untuk toilet sangat kecil, kira-kira hanya cukup menampung 3 orang saja, tentu saja dengan kepentingan berbeda. Di bagian ujung toilet disediakan satu buah urinoir (itu kata Ajenx, dan tentunya diucapkan dengan lafal prancis “uyinoach” … entah bener ato gak, she’s the arch-girl), berjejer dengannya satu buah wastafel, dan di dekatnya ada satu buah bilik dengan satu buah kloset duduk.

Satu buah urinoir berdiri tegak di ujung ruangan ditemani dengan pohon kecil. Mungkin bagi sebagian orang akan terlihat indah, tapi untuk saya sendiri merasa seolah-olah ketika sedang berdiri di situ ada sesuatu yang memperhatikan saya di belakang. Kemudian saya mencoba wastafelnya … cukup manis dengan sebuah tisu di pinggirnya.

Ada dua hal yang membuat saya agak heran, yaitu kenapa pihak manajemen menyediakan dua buah sabun di atas wastafel. Kalau anda perhatikan, di bagian atas keran terdapat tabung sabun standar yang bisa ditekan bagian bawahnya, kemudian di bagian kanan atas terdapat juga kotak sabun keluaran produsen sabun terkenal. Mungkin untuk orang bule musti make sabun keluaran Initial dan orang indonesia cukup make DeeDee ato sabun Harum aja kali yah. Satu lagi adalah sebuah colokan listrik di samping urinoir … ada gitu gunanya??

Melongok ke dalam bilik kloset, well … bisa dibilang sangat sempit. Untuk orang yang berukuran 175cm keatas sepertinya cukup kesusahan menggunakan kloset karena akan tertahan di pintu, kecuali kalo nggak nutup pintu hehehe … Sisanya biasa saja …

Humm, satu lagi yang saya sukai dari toilet ini yaitu penerangannya. Sinar lampu yang disediakan tidak terlalu terang dan tidak terlalu gelap.

Well … demikian sekilas review mengenai toilet Avenue Pizza … sekali-kali mampir saja ke restoran ini, pizzanya enak dan toiletnya mengasyikkan (hayah apa coba hubungannya) …

Posted: February 1, 2006 Comments (4)