The Myth

Before you read: Mulai posting ini, penggunaan kata “gue” atau “gw” mulai dihilangkan.

“Jika kita berjuang keras untuk hidup, apakah artinya jika kemudian kita menjadi budak dari takdir?”

Tadi malam saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke Wahana Disc untuk mengembalikan film yang sudah sangat terlambat dari jadwal pengembaliannya. Karena terlambat, CS (customer service) di situ menawarkan untuk mengganti uang denda dengan penyewaan tiga film plus bonus satu film. Well, nothing to lose so saya setujui saja, lagian itu sudah biasa saya lakukan sebelumnya. Sekitar 20 menit saya berada di situ untuk memilih-milih film dan kemudian menyewa tiga buah film yang sama sekali saya nggak tau kaya bagaimana dan untuk bonusnya saya suruh saja CS itu untuk memilihkan buat saya, dan dia menyarankan “The Myth”. Okay, Rp 7500 saya bayar dan kemudian saya pulang ke kost.

Sampai di kost, entah karena tertarik oleh sebuah nama … Kim Hee Soon … akhirnya saya memutuskan untuk mulai menonton dari The Myth. Kesan pertama yang kulihat adalah betapa cantiknya Kim Hee Soon. Kesan berikutnya dari film ini adalah sama seperti kesan saya terhadap sebagian besar film mandarin yaitu lebih memusatkan pada aksi yang wah dan wow namun sedikit (atau banyak) mengabaikan konsep realitinya, sehingga beberapa adegan terlihat dibuat-buat dan tidak enak untuk dilihat. Well, kesampingkan dulu kesan itu, ada hal lain yang membuat saya tertarik dengan film ini, yaitu bagaimana saya melihat melalui film ini posisi wanita pada masa kerajaan jaman dulu. Sering kita mendengar cerita sejarah yang menceritakan bagaimana seorang putri kerajaan tetangga diberikan (saya menggunakan kata “diberikan” karena sebenarnya posisinya nggak jelas, apakah akan dinikahkan atau dijadikan selir atau bahkan hanya dijadikan pemuas nafsu lalu dibunuh) kepada raja kerajaan sebelah guna menciptakan keadaan damai bagi dua belah pihak. Well, selama ini yang kupikirkan hanya sebatas “Oh ya? Dan akhirnya mereka menikah, hidup bahagia sampai selama-lamanya …”. I never think about the fact that maybe that girl already have a lover, neither I think that she already have a life to live, or maybe that deep inside her heart and behind those fake smile, she thinked that she is only a tool to her country, and many other …

Kalau boleh dibilang, mitos kedudukan wanita sejak jaman dulu kala memang agak rumit. Di sebuah sisi, seorang wanita begitu lemahnya dan tidak memiliki daya tawar yang kuat dengan pria sehingga membuat pria bersikap seenaknya, namun di sisi yang lain wanita dapat memberikan pengaruh yang luar biasa bagi seorang pria sehingga membuat pria bertekuk lutut dan mau melakukan apa saja demi wanita. Sisi yang pertamalah yang kemudian menjadi pemicu keberadaan wanita sebagai “alat” untuk menciptakan perdamaian antara dua kerajaan yang berselisih. Kemudian sisi yang kedualah yang kemudian akan menentukan bagaimana perdamaian itu akan bertahan. Dimana hubungannya?? Teruskan saja membaca …

Menjadi seorang selir atau ratu atau apapun lah istilahnya bisa menjadi surga bagi seorang wanita di jaman itu namun juga bisa menjadi neraka bagi mereka. Wanita mana yang tidak tersiksa ketika dia harus meninggalkan dunia nyata yang dimilikinya dan sepenuhnya takluk pada perintah raja. Baik itu wanita dari kalangan rakyat jelata maupun wanita dari kalangan istana. Kemudian ketika mereka masuk istana, dibalik segala kesedihan itu, mereka harus memainkan peran untuk menarik perhatian raja dan berusaha menjadi kesayangan raja agar mereka bisa sedikit banyak mempengaruhi pandangan raja terhadap negeri atau kaum mereka dan perdamaian bisa berjalan dengan baik. Tidak mudah untuk survive dan memainkan peran yang luar biasa dalam kondisi ini. Di sinilah letak hubungan yang saya sebutkan di atas. Kelemahan pria terhadap pesona wanita akan memainkan peran besar dalam hubungan politik sesudahnya. Selir yang gagal menguasai peran tersebut akan membawa kehancuran bagi dirinya sendiri dan rakyatnya. Saya tiba-tiba menjadi kagum dengan perempuan-perempuan itu yang bisa memainkan peran luar biasa ini. Kalimat di atas adalah ungkapan hati dari seorang putri yang dijadikan selir. Mereka harus menghadapi kenyataan bahwa kebebasan mereka hanyalah bersifat sementara. Mereka sadar sepenuhnya bahwa akan datang waktunya ketika mereka harus masuk istana dan menjadi budak dari takdir mereka sebagai seorang putri. Yang bisa mereka lakukan adalah berjuang keras untuk hidup dan menanti takdir menentukan arah hidup mereka.

Beruntunglah sekarang hal kaya beginian sudah mulai jarang ditemukan. Kalaupun ada mungkin hanya beberapa saja, dan misi yang diemban tidaklah sebesar yang ada dulu. Paling-paling misi yang diemban adalah soal bisnis, harta dan lain sebagainya yang bersifat sangat individu sekali. Itupun banyak yang kemudian cerai atau membunuh suaminya. Tetapi apapun itu, The myth about women’s position never change …

Posted: January 20, 2006 Comments (6)